Potongan suara orang azan ini tergiang ditelingaku, dan sejenak kuatur nafasku dan mencoba tuk menjauhi kasur yang begitu menggoda kemalasan dalam diriku ini. Dengan melawan rasa malas yang seolah ingin menarikku tuk memeluk kembali guling yang tergeletak sendriri diatas kasur dengan balutan kain merah hitam, Dan harus ku akui butuh energi lebih tuk melawan rasa malas ini, seakan aku sedang bergulat dengan seorang pesumo profesional, hanya tuk berjalan menuju kamar mandi yang masih berada dalam kamar ini.
"Ari..... cepat bangun, orang sudah selesai azan tu. ntar terlambat ke masjidnya" teriak ibuku dari laur kamar.
"iya... ini lagi di kamar mandi, mau wudhu dulu." jawabku untuk memastikan bahwa apa yang ia inginkan dan pastinya untuk menghentikan teriakan-teriakannya yang dari tadi menghujani telingaku, walaupun kepalaku sudah kututup pakai guling. Dan satu lagi, sebenarnya bukan suara potongan azan itu yang memicu kesadaranku tuk bergegas bangun dan ke masjid, tapi suara ibuku lah yang mejadi pemicu utama yang membuatku harus berjuang keras melawan rasa malasku tuk mengembalikan kesadaranku sebelum beranjak ke masjid. heheheee, ini rahasia kita, jagan bilang ma yang lain.
"klu begitu, ibu duluan. dan kunci rumah saya bawa, jadi ntar tinggal kasih rapat saja pintu rumah!" balas ibuku dengan nada yang sedikit rendsah dari tadi, yang menandakan jiwanya sudah sedikit tenang memikirkan anaknya yang satu ini.
"ok..mam..." jawabku sambil mengambil peci di lemari bagian atas dan membetulkan sarung putihku.
allahuakbar....allahuakbar....
suara muadzin terdengar jelas sudah mengumandangkan iqamat, dan spontan tangan kananku memegang peci dan yang kiri memegang sarung dengan sedikit mengangkat keatas lalu kuambil langkah seribu menuju mesjid. takut ketinggalan shalat berjamaahnya namun payahnya karena sangat buru-burunya saya lupa tutup pintu rumah,
jadinya kembali lagi rapatkan semua pintu rumah. Kupikir mending ketinggalan shalat berjamaah yang nilainya 27 derajat lebih tinggi dari shalat sendiri ketimbang ku bergegas kemesjid dengan pintu rumah tidak terkunci, pasti shalat berjamaahnya juga nda konsentrasi apalagi mau khusyuk.
jadinya kembali lagi rapatkan semua pintu rumah. Kupikir mending ketinggalan shalat berjamaah yang nilainya 27 derajat lebih tinggi dari shalat sendiri ketimbang ku bergegas kemesjid dengan pintu rumah tidak terkunci, pasti shalat berjamaahnya juga nda konsentrasi apalagi mau khusyuk.



